Sabtu, 01 Mei 2010

Ketika Musibah Menimpa Manusia

Syahdan, seorang hamba yang shaleh mengeluh kepada Allah. “Wahai Allah! Setiap hari aku selalu melakukan apa yang Engkau perintahkan dan menjauhi apa yang Engkau larang. Namun mengapa Engkau jauhkan dunia dariku dan tidak memberikan kelonggaran buatku untuk menggapainya? Malah ditengah-tengah kesulitanku menggapai dunia, justru Engkau timpakan pula musibah bertubi-tubi kepadaku. Sementara aku menyaksikan dengan penuh cemburu, bahwa hamba-hamba-Mu yang lain, yang begitu ingkar dan keras melawan-Mu bahkan asyik menikmati apa yang Engkau larang, justru Engkau mudahkan buat mereka jalan memperoleh kemegahan dunia. Malah musibahpun engkau jauhkan dari mereka. Mengapa Tuhanku?”

Jawab Allah, “Sungguh apa yang dikerjakan oleh semua hamba-hamba-Ku dan segala musibah yang Aku timpakan untuk mereka adalah kuasa-Ku, karena mereka semuanya bertasbih dan memuja-Ku. Seorang hamba yang beriman yang sebelumnya banyak berbuat dosa, Aku jauhkan dunia dari haribaannya, lalu Aku timpakan segala musibah kepadanya, sebagai tebusan terhadap dosa-dosanya yang lalu, agar kelak ketika dia bertemu dengan-Ku dalam keadaan Aku telah membalas semua kebaikannya.

Sedangkan mengenai hamba-Ku yang ingkar itu, ternyata sebelumnya dia telah melakukan kebaikan yang banyak. Maka Aku longgarkan kepadanya untuk memperoleh dunia, seraya Aku jauhkan dia dari segala musibah sampai dia bertemu dengan-Ku dalam keadaan Aku telah membalas semua kejahatannya”.

Hamba yang shaleh kembali bertanya, ”Bagaimana dengan hamba-Mu yang melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan, sementara dia selalu bertobat atas kejahatannya itu. Namun dia tidak mendapat apa-apa secara material didunia ini. Dan bagaimana pula hamba-Mu yang melakukan kejahatan lebih banyak dari kebaikan, sementara dia tidak pernah bertobat malah menambah-nambah kejahatannya. Namun dia selalu memperoleh kenikmatan material berlebih di dunia ini?”.

Jawab Allah, “Wahai hamba-Ku yang shaleh, Aku tahu maksud pertanyaanmu itu. Maka perhatikanlah baik-baik kisah dua orang bersahabat berikut ini. Pada suatu zaman sebelum kamu pergilah dua orang nelayan ke laut mencari ikan. Seorang mukmin yang seorang lagi kafir. Si kafir setiap kali dia melemparkan jaringnya ke laut, selalu menyebut nama Tuhannya padahal kehidupannya sehari-hari sangat jauh dari Tuhan. Namun dia mampu memperoleh ikan yang banyak. Sedangkan si mukmin, setiap kali dia melempar jaringnya ke laut dia juga selalu menyebut nama Tuhannya sejalan dengan kehidupannya sehari-hari yang sangat dekat dengan Tuhan. Namun dia tidak mendapatkan ikan seekorpun, kecuali ketika menjelang terbenam matahari di ufuk barat, barulah dia berhasil mendapatkan seekor ikan yang kecil. Itupun karena ikan yang baru didapatkannya itu bergerak-gerak dengan kuatnya, sehingga terjatuh kembali ke laut dan lari entah kemana. Maka kembalilah si mukmin ini kerumahnya dengan tangan hampa. Sementara si kafir berpesta-pora dengan membawa bakul yang penuh berisi ikan.

“Lalu apa hubungan keduanya dengan pertanyaan saya, wahai Allah”, Tanya hamba yang shaleh penasaran.

Jawab Allah, “Camkanlah baik-baik wahai hamba-Ku. Si mukmin itu di dunia ini memang tidak mendapatkan apa-apa secara material. Namun karena dia selalu melakukan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang, maka aku kayakan bathinnya seraya menyiapkan surga sebagai rumah abadi buatnya di akhirat. Sedangkan si kafir itu, di dunia ini dia memang memperoleh kenikmatan dunia yang banyak. Namun karena dia selalu meninggalkan apa yang Aku perintahkan dan mengerjakan apa yang Aku larang, maka Aku miskinkan bathinnya, seraya menyiapkan neraka sebagai rumah abadi buatnya di akhirat. Karena itu wahai hamba-Ku yang shaleh, janganlah engkau bersedih dan jangan pula berpaling dari ujian-Ku”.

Dari peristiwa ini tersirat pesan bahwa pada hakekatnya inti cerita ini mencoba mengajak manusia untuk menatap masa depan dengan ceria. Jangan tercampakkan oleh ujian atau musibah lantaran dibalik ujian ataupun musibah seburuk apapun, pasti ada hikmah yang acapkali tidak kita sadari namun bisa berbuah kenikmatan. Seseorang misalnya, dia akan dapat menikmati rasa sehat jika dia pernah jatuh sakit. Orang akan dapat memahami rasa kenyang jika dia pernah merasakan kelaparan. Orang baru merasa kehilangan dan kesepian jika orang yang selalu didekatnya telah pergi jauh. Demikian seterusnya.

Musibah memang selalu bermata dua. Disatu sisi ia menampakkan wajah sedih namun disisi lain ia boleh jadi merupakan karunia yang tersembunyi yang hanya bisa ditangkap dengan mata bathin. Begitu pula keberuntungan selalu juga memiliki dua sisi yang berkebalikan. Disatu sisi ia menampakkan wajah ceria, namun pada sisi yang sama ia boleh jadi merupakan bencana yang tersembunyai yang sulit kita terima dengan logika telanjang.

Maka Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 155-156 : “Sungguh kami akan menguji kalian dengan sesuatu ketakutan, kelaparan, kehilangan harta jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang jika ditimpa suatu musibah selalu berkata ‘kami berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah’ “.

Ayat ini mencoba memberikan dasar-dasar yang sehat kepada umat Islam agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup dan mau menerima kenyataan-kenyataan yang dihadapinya. Jangan takut berbuat salah kalau yakin sedang melakukan sesuatu yang benar. Dan jangan pula takut gagal jika tengah berikhtiar memperbaiki nasib. Karena Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Tidak ada kesalahan ataupun kealpaan yang tidak akan diampuni kecuali dosa menyekutukan Allah. Itulah sebabnya Nabi SAW bersabda : “Orang yang minta ampun akan dosa-dosanya bagaikan orang yang tidak pernah berbuat dosa”.

Nabi SAW sendiri pernah ditegur keras oleh Allah SWT gara-gara beliau menolak pertobatan seorang anak muda yang telah melakukan dosa besar. Ketika itu Nabi SAW didatangi Umar Bin Khattab yang membawa seorang pemuda dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Lalu Nabi SAW bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Sambil menghapus air matanya pemuda tersebut menjawab, “Saya telah melakukan dosa besar ya Rasulullah”.

“Dosa apa itu?” tanya Rasulullah penasaran. “Saya malu mengatakannya ya Rasulullah. Karena boleh jadi Allah tidak sudi mengampuni dosaku”. Jawab pemuda itu. “Jangan malu katakan saja. Insya Allah Dia akan mengampuni dosamu”. Atas desakan Nabi ini pemuda itupun mengisahkan perbuatnnya.

“Sejak usia tujuh tahun pekerjaan saya adalah membongkar kuburan orang, sambil mengambil kain kafannya dan menjualnya ke pasar. Dulu saya hanya membantu ayah, tetapi sekarang sudah membuka usaha sendiri”. Mendengar hal itu Nabi geleng-geleng kepala. “Namun itu belum seberapa ya Rasulullah” ucapnya lagi. “Yang jauh lebih keji dan memalukan adalah, aku membongkar kuburan seorang gadis cantik kaum Anshor. Saya buka kain kafannya, lalu saya melihat gadis itu tak tertutupi sehelai benangpun, darah mudaku mendidih. Lalu aku terdorong nafsu untukmenggagahi mayat itu ya Rasullah”.

Mendengar penuturan pemuda tersebut, Nabi SAW tiba-tiba berdiri dan marah, dengan wajah merah padam beliau menghardik, “ Hari durhaka! Enyahlah kau dari hadapanku. Tiada balasan yang setimpal dari perbuatanmu kecuali neraka jahanam”.

Mendengar kutukan Nabi tersebut, anak muda tadi lemas sekujur badannya. Dia merangkak meninggalkan junjungan umat Islam itu. Mengembaralah dia ke Padang Pasir dan bersujud siang dan malam seraya menangis kepada Allah. “Ya Allah, aku hambamu yang telah melakukan dosa besar. Telah kudatangi rumah utusan-Mu, kumohon agar dia bersedia memberikan syafa’atnya kepadaku. Tetapi manakala dia mendengar betapa kejinya perbuatanku, diusirnya aku dari sisinya. Sekarang kuketuk pintu-Mu ya Allah. Engkaulah harapanku yang terakhir. Aku bermohon agar Engkau sudi menerima pertobatanku dan mengampuni semua dosa-dosaku. Jika Engkaupun tak sudi maka antarkanlah api neraka dari hadirat-Mu dan bakarlah aku sekarang juga sebelum Kau bakar aku nanti di neraka jahanam buat selama-lamanya”.

Agaknya do’a anak muda ini dikabulkan Allah. Allah memerintahkan Jibril As datang menemui Rasulullah SAW. Kata Jibril, “Ya Rasulullah, Allah mengirimkan salam kepadamu dan berfirman “Tidakkah engkau Ku-utus melainkan untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Tetapi mengapa ketika hamba-Ku datang untuk bertobat, kau usir dia dari hadapanmu. Terimalah dia wahai Muhammad. Sebab yang berhak menerima atau menolak pertobatan seorang hamba Allah, adalah Allah itu sendiri”.

Peringatan ini membuat Nabi SAW menggigil ketakutan dan menyesal. Beliau lantas menyuruh para sahabat mencari anak muda yang malang tersebut dan membawanya kehadapan beliau. Sejak itu konon Nabi SAW langsung memaafkan kesalahannya dan memohonkan ampun kepada Allah atas dosa anak muda itu seraya memberikan syafa’at untuknya. Sehingga ketika meninggal dunia dosa anak muda itu telah diampuni Allah SWT. Hal inilah yang menggugah Nabi SAW untuk mengatakan : “Tiada suara yang lebih dicintai Allah kecuali suara seorang hamba yang berdosa, takkala dia meminta ampun atas segala dosa-dosa yang telah dilakukannya. Maka pada waktu itu Allah akan berfirman, Kuterima kedatanganmu, katakanlah permintaanmu”.

Belajar dari tuntunan Nabi SAW ini, ada baiknya para pemimpin agama kita pun melakukan hal yang sama. Dituntut untuk bersikap bijak dan santun kepada setiap umat yang melakukan kesalahan, seberat apapun kesalahan tersebut. Kita dianjurkan untuk tidak memandang sinis dan penuh kebencian kepada seorang pendosa. Kita diharapkan selalu memandang dengan penuh kasih jika pendosa tersebut mau berterus terang, apalagi mereka mau kembali kejalan yang benar. Mengapa kita tidak bersedia menyambut tangan mereka yang kotor, padahal sekotor apapun tangan yang menggapai dunia, dalam pandangan Allah bisa jadi dia mendapatkan pembersihan jika dia bersungguh-sungguh menadahkan tangannya untuk menggapai pengampunan Allah SWT.

Agama hendaknya kita kembalikan fungsinya sebagai tempat berteduh bagi hamba Allah yang ingin memanusiakan dirinya, bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain, apalagi mengutuk dan mengkafirkan mereka secara sewenang-wenang. Nabi SAW sendiripun diperingatkan Allah bahwa kewajibannya adalah memberi peringatan bukan sebagai pemaksa kehendak umat manusia. Sebab, jika kita berlaku kasar dan keras niscaya umat akan menjauh dan meninggalkan kita. Wallahu a’lam.

Disarikan dan ditulis kembali dari berbagai sumber terpilih

0 komentar:

Posting Komentar

Template by: Abdul Munir
Website: 99computercity