Rabu, 26 Mei 2010

Matematika Sedekah

Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?

10 - 1 = 19

Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan darimana? Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar?

Kenapa bukan 10-1 = 9?

Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas adalah matematika sederhana yang diambil dari QS Al-An’aam: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-An’aam, 6: 160)

Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya bukan 9, melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan oleh Allah sepuluh kali lipat.

Hasil akhir atau jumlah akhir bagi mereka yang mau bersedekah tentu akan lebih banyak lagi, tergantung kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat. Dalam QS Al-Baqoroh ayat 261, Allah menjanjikan 700 kali lipat.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqoroh, 2: 261)

Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu apa bentuknya. Bukalah mata hati dan kembangkan ke-husnudzdzan-an atau positif thinking ke Allah, bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

Insya Allah. Amin ya Robbal Alamin.

Sumber : www.gemar-sedekah.co.cc

Baca Selengkapnya...

Rabu, 12 Mei 2010

Ciptakan Kehidupan Bukan Sekedar Hidup

Untuk dapat sekedar hidup, mungkin kita tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita.

Namun sebagai mahluk yang paling spesial diantara mahluk ciptaan Tuhan YME, kita berkewajiban untuk mendapatkan kehidupan yang berarti. Kita harus berupaya semaksimal mungkin. Sebuah pepatah bijak menyebutkan, "Find a meaningful need and fill it better than anyone else (kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun)."

Ada beberapa langkah untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih berarti.

Langkah pertama adalah memperbesar kemauan untuk belajar. Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka gunakan pikiran tersebut untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup. Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.

Langkah kedua supaya kehidupan kita lebih berarti adalah mencoba melakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan. Bekerjalah lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia.

Satu hal yang patut dijadikan pedoman bahwasanya kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5P, yaitu power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan) , prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan).

Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan. Contohnya adalah sebuah fakta tentang delapan orang miliarder di Amerika Serikat yang berkumpul di Hotel Edge Water Beach di Chicago, Illionis pada tahun 1923. Mereka adalah orang-orang yang sangat sukses, tetapi mengalami nasib tragis 25 tahun kemudian.

Salah seorang diantara mereka adalah Charles Schwab, CEO perusahaan besi baja ternama pada waktu itu, yaitu Bethlehem Steel. Tetapi Charles Schwab mengalami kebangkrutan total. Sehingga ia terpaksa berhutang untuk membiayai hidupnya selama 5 tahun sebelum meninggal.

Yang kedua adalah Richard Whitney, President New York Stock Exchange. Namun pria ini ternyata menghabiskan sisa hidupnya dipenjara Sing Sing.

Orang ketiga adalah Jesse Livermore, raja saham "The Great Bear" di Wall Street. Tetapi Jesse mati bunuh diri.

Orang ke empat adalah "The Match King", Ivar Krueger, CEO perusahaan hak cipta, yang juga mati bunuh diri. Begitu juga dengan yang kelima Leon Fraser, Chairman of Bank of International Settlement, ia mati bunuh diri.

Yang keenam adalah Howard Hupson, CEO perusahaan gas terbesar di Amerika Utara. Tetapi ia sakit jiwa dan dirawat di rumah sakit jiwa hingga akhir hidupnya. Arthur Cutton sebelumnya adalah pemilik pabrik tepung terbesar di dunia, tetapi ia meninggal di negeri orang lain.

Sedangkan Albert Fall, waktu itu ia adalah anggota kabinet presiden Amerika Serikat. Namun ia meninggal di rumahnya di Texas ketika baru saja keluar dari penjara.

Di dunia ini tidak sedikit orang yang semula sangat sukses, tetapi merana di tahun-tahun terakhir kehidupan mereka. Kehidupan mereka seakan-akan tidak berarti meskipun sebelumnya sangat kaya raya. Upaya terbaik memang dapat menghasilkan kesuksesan besar, tetapi bukan berarti merupakan jaminan sebuah akhir kehidupan sebagai manusia yang penuh arti.

Karena itu langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah mengimbangi kerja keras dengan berbuat kebaikan. Seorang penulis pada abad 20-an yang berkebangsaan Perancis, Andri Gide, mendefinisikan kebaikan itu sebagai berikut ; "True kindness presupposes the faculty of imagining as one's own the suffering and joys of others (kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain)."

Kerja keras yang diimbangi dengan berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Hal itu terdorong oleh keinginan untuk dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan sikap dan ekonomi. James Allen, penulis buku berjudul As a Man Thinketh mengatakan, "Pemikiran serta perbuatan baik tidak mungkin mendatangkan hasil yang buruk. Pemikiran dan perbuatan buruk tidak mungkin mendatangkan hasil baik." Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti.

Langkah-langkah sebagaimana dijelaskan diatas terbukti juga sangat efektif menjadikan kesan positif tentang diri kita tidak mudah dilupakan orang. Saya meyakini bahwa kita masih mempunyai banyak kesempatan dan potensi untuk mendapatkan kehidupan berharga itu dimanapun dan apapun pekerjaan kita.

Sumber : Andrew Ho In Make A Life

Baca Selengkapnya...

Minggu, 09 Mei 2010

Hati2 Bagi Yang Suka Makan Fried Chiken Pinggir jalan

Tulisan Seorang Rekan IMF Members Handa MM,EIS.GDA pada hari Minggu.

Pukul 16.30

Sepulang dari ITC, aku menyempatkan diri untuk membeli makan malam, sekaligus makanan buat sahur. Niatnya sih mau puasa Senin-Kamis seperti biasa. Karena bosan dengan lauk yang itu-itu saja (aku harus beli lauk yang bisa tahan sampe besok pagi, jadi biasanya ya paduan ayam goreng ma perkedel atau ayam goreng ma orek tempe), aku ingin mencoba ayam goreng kremes (baca : KFC-KFCan atawa KFC palsu yang dijual di pinggir jalan) deket kosku. Memang selama 10 bulan lebih tinggal disana, aku tidak pernah beli di situ (kalo dulu sih gara-gara duitnya mepet).

Maka aku membeli satu potong dada atas Rp 3800,- dan satu potong punggung Rp 2000,-. Rencananya bagian punggung kupakai buat lauk makan malam sedang bagian dada yang dipakai buat lauk sahur.

Aku sempat bertanya pada penjualnya, " Ada sayap ga Mas?" karena di daftar terantum menu tersebut. Masnya menjawab, "Sudah habis, Mbak". Sempat terbersit curiga, siang-siang kok udah habis, padahal kayanya sepi-sepi aja. Jangan-jangan memang ga jual. Ah, sudahlah, aku tak terlalu memusingkan hal tersebut.

Pukul 17.30

Sehabis sholat ashar, karena masih males mandi, aku ingin mencicipi "makanan" yang sudah kubeli. Keadaan kamar waktu itu remang-remang karena lampunya belum kunyalakan. Kubuka kantong kertas pembungkus dan kulongok ke dalamnya. Tampaknya baik-baik saja. Rupa ayam goreng tepung biasa. Aku mengambil potongan yang lebih kecil, karena menurut dugaanku, itulah yang bagian punggung. Mencoba mencuil sedikit, tapi kok susah. Ya sudah, kugigitlah sedikit daging itu. Kukunyah, kok rasanya agak kenyal ya? Berlemak dan aneh. Jangan-jangan ayam mati? Aku mulai deg-degan. Apalagi setelah melihat samar, potongan bekas yang kugigit berbentuk bulat, yang bisa kubayangkan bahwa semula dia berbentuk gilig. Emang ada bagian tubuh ayam yang berbentuk gilig? Di punggung pula?

Dengan panik kunyalakan lampu kamar. Dalam keadaan yang lebih terang, aku periksa lagi potongan daging itu. Benar, bentuknya seperti pipa, dengan diameter sedikit lebih besar dari 0,5 cm. Masa bagian tenggorokan saluran napas –yang biasanya ada di leher- kebawa sampe punggung? Jadi, "ekor"?! Itulah kesimpulan yang akhirnya muncul. Deg..deg... Aku mengambil piring dan bersiap mengoperasi "daging punggung" itu.

Untuk sekedar mengingatkan, selama 10 tahun lebih aku bergaul dengan ayam, dan sempet bergaul akrab dengan angsa dan burung puyuh. Bagi yang mengenalku dengan baik, tak disangkal, Nur adalah seorang penggemar unggas. Berbekal latar belakang itu, meski bukan lulusan kedokteran hewan, aku cukup mengenal dengan baik anatomi tubuh dan segala seluk beluk hewan ini.

Waktu beli tadi, aku membayangkan "punggung" adalah "rongkong" dalam bahasa Jawa. Ini adalah salah satu bagian favoritku setelah sayap. Jika anda meminta bagian ini, anda akan mendapatkan banyak sekali tulang (tulang rusuk dan taju pedang kalo di manusia), sedikit daging yang menempel di tulang, dan sedikit sekali kulit. Namun waktu ayam goreng itu kubelah dan kuhilangkan bagian tepungnya, AKU SAMA SEKALI TIDAK MENEMUKAN TULANG!

Yang ada malah bagian kulit yang lebar sekali, dengan lemak dan sedikit daging putih yang menempel. Bila dihubungkan dengan bagian yang kupikir sebagai "ekor", maka bisa dibayangkan kalo itu adalah bagian pantat dari… SEEKOR TIKUS!! Memang beberapa hari sebelumnya aku mendapat email dari Mbak Kosku tentang daging tikus yang diolah sedemikian rupa agar mirip daging ayam, lalu dijual bebas di masyarakat. Tapi ga pernah kusangka, kejadian serupa akan secepat ini kualami sendiri. Hiks!

Udah mulai mual-mual, aku meneruskan pembedahan. Kuteliti kulit luas itu. Dari pengalaman, aku sangat ragu kalo kulit kasar itu pernah ditumbuhi bulu. Sebaliknya, dengan keyakinan 80% aku bisa bilang bahwa jejak pori disana adalah bekas tumbuh rambut!

Dengan lemas, kumulai pembedahan ke potongan daging kedua: potongan dada atas. Jika anda makan bagian dada ayam, anda akan menemukan sebuah tulang rawan berbentuk segitiga yang khas. Namun setelah memutilasi dan menghancurkannya, aku tidak menemukan tulang itu. Yang ada malah sebentuk tulang kecil yang aneh (berasa tidak pernah liat di tubuh ayam, dan susah membayangkan bagian tubuh ayam yang mana yang memilikinya) . Di bagian daging, biasanya daging dada ayam itu berserat, yang bila kita khancurkan akan menjadi serpihan (susah bilangnya, bayangin aja daging yang biasa ada di soto ayam deh). Namun setelah kuambil selembar, kutekan pake jari, daging itu tetap utuh karena terikat oleh lemak. Padahal setahuku daging bagian dada adalah yang paling sedikit lemaknya.

Yaiks, intinya, hari itu hampir saja aku makan daging tikus!! (udah gigit ekornya dikit sih, astaghfirullah!!) Hiiii, sampai sekarang masih merinding kalo inget…

Yah, meskipun mungkin daging tikus bisa bikin kulit cantik (kan Sandra Dewi tu makannya aneh-aneh, jadi kulitnya mulus), tapi tiada niatanku mendapatkan kulit cantik dengan cara itu. Buhuhu…

Jadi temans, aku sarankan agar hati-hati bila beli ayam goreng, apalagi yang dibalut tepung tebal, karena tepung itu menyamarkan bentuk aslinya. Mending yang digoreng biasa atau ayam bakar, atau beli di tempat yang terjamin kebersihannya.

Kesimpulan : Sedikit tips yang bisa membantumu mbedain daging ayam dengan daging tikus.

  1. Dari segi daging, sama-sama putih dan rasanya benar-benar mirip, tapi daging tikus lebih banyak lemaknya dan seratnya halus (kalo ayam sedikit lebih kasar).
  2. Periksa kulitnya, apakah berpori besar atau kecil. Kalau kecil, kemungkinan yang pernah tumbuh adalah rambut, bukan bulu!
  3. Cek tulangnya (agak susah ya kalo ini), misal bagian dada ya ada si tulang rawan, kalo di paha ya tulang paha yang besar itu, kalo punggung ya tulang rusuk, dsb.
  4. Jangan tertipu dengan harga murah (itu kan buatmu sendiri…mwehehehe).
  5. Coba cek apakah si penjual tersebut pernah jual sayap apa ga. Kalo ga pernah jual, anda patut curiga karena seperti kita tahu, salah satu ciri khas unggas adalah bagian sayap, yang tentunya tidak mungkin bisa dipalsukan.

Ini nich yang perlu diperhatiin bagi yang suka ayam goreng, jangan sembarangan makan dipinggiran jalan. Adakalanya kita harus berhati-hati apabila memutuskan untuk makan di pinggir jalan, sekedar menepikan mobil untuk mengisi perut. Mungkin ini perlu diketahui. Juga untuk kawan2 yang sering ke lapangan.

Hati-hati.! Kelihatannya seperti daging ayam, padahal ....

Sumber : Milis IMF
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 08 Mei 2010

Hikayat Batu Dan Pohon Ara

Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak berusia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayangnya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan, dalam kawalan ketat para pengawal. Rombongan itu bergerak terus hingga pada suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.

"Bapa, mengapa tampak oleh-ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar daerah ini. Apakah gerangan semua itu?".

"Baik pengamatanmu, anakku", jawab Ayahnya. "Bagi orang biasa itu hanyalah batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak berbeda".

"Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa ?", tanya anaknya kembali.

"Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat berseru-seru dipinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit dari kita yang menggubris ajakan itu".

"Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu pada ku?".

"Tentu buah hatiku", sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya. "Dahulu, ketika aku masih belia, hal ini pun menjadi pertanyaan di hatiku. Dan kakekmu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak olehmu sebenarnya sedang menindih sebuah biji pohon ara."

"Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu Bapa?".

"Tidak anakku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat ditepi jalan kemarin".

“Bilakah hal itu terjadi Bapa?".
"Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan angin dan dari mata segala hewan. Samapai beberapa waktu kemudian benih itu akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan di atas permukaannya, tetapi dibawah, akarnya terus menjalar. Setelah dirasa cukup barulah tunasnya akan muncul perlahan”.

“Pohon ara itu akan tumbuh semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang menindihnya. Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir disetiap pohon ara akan kau temui sebuah batu, seolah-olah menjadi peringatan bahwa batu yang pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang berlindung dari terik matahari yang membakar".

"Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapa ?", tanya anaknya.

Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian meneruskan penjelasannya.

"Benar anakku. Jika suatu saat engkau didalam masa-masa hidupmu, merasakan terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah kesempatan bagimu untuk berakar, semakin kuat, tumbuh dan akhirnya tampil sebagai pemenang.

“Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu. Jadi jika benih pohon ara yang demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khalik untuk dapat menyingkirkan batu diatasnya, bagaimana dengan kita ini. Dzat Yang Maha Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri kita. Dan menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk dimuka bumi ini”.

“Perhatikanlah kata-kata ini anakku. Pahatkan pada loh-loh batu hatimu, sehingga engkau menjadi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena memang kita ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita sendiri”.

Sumber : ebook Motivation Of Live

Baca Selengkapnya...

Kamis, 06 Mei 2010

Keutamaan Sedekah

Diceritakan, ketika Nabi Ayub AS sedang mandi tiba-tiba Allah SWT mendatangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis lengan bajunya agar belalang jatuh. Lantas Allah SWT berfirman, ''Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?'' Nabi Ayub AS menjawab, ''Ya benar, wahai Sang Pencipta! Demi keagungan-Mu apalah makna kekayaan tanpa keberkahan-Mu.''

Kisah di atas menegaskan betapa pentingnya keberkahan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Kekayaan tidak akan membawa arti apa-apa tanpa ada keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta dan rezeki yang sedikit akan bisa terasakan mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkahan rezeki yang meskipun banyak akan terasakan sempit dan menyusahkan.

Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata Rasulullah SAW, ''Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.'' Dalam hadist lain, Rasulullah SAW menjelaskan, ''Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, “Ya Tuhanku, karuniakanlah (ganti) kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah”. Yang satu lagi menyeru, “Musnahkanlah orang yang menahan hartanya.”

Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

Sedekah memiliki beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya.

Pertama, mengundang datangnya rezeki. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Al-quran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ''Pancinglah rezeki dengan sedekah.”

Kedua, sedekah dapat menolak bala. Rasulullah SAW bersabda, ''Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.''

Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah SAW menganjurkan, ''Obatilah penyakitmu dengan sedekah.''

Keempat, sedekah dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah SAW, ''Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.''

Mengapa semua itu bisa terjadi? Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang bersedekah. Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).

Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya, masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah? Wallahu a'lam bis-shawab.

Disarikan dan ditulis kembali dari berbagai sumber terpilih

Baca Selengkapnya...

Senin, 03 Mei 2010

Garam Dan Telaga

Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang di rundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya yang sangat ruwet. Pemuda itu memang tampak seperti orang yang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya.” Ujar pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali.” jawab sang tamu sambil ia meludah kesamping.

“Pak tua itu sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya itu untuk berjalan ke tepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ketepi telaga yang tenang tersebut.

Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”. Saat tamu itu selesai mereguk air itu pak tua berkata lagi ”Bagaimana rasanya?”

“Segar.” Sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam didalam air itu?” tanya pak tua lagi. “Tidak” jawab si anak muda.

Dengan bijak Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang tetap sama.”

“Tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan di dasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalan hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan, lapangkanlah dadamu dalam menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu kembali memberi nasihat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, tapi buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak tua si orang bijak itu kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Sumber : ebook Motivation Of Life

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 01 Mei 2010

Ketika Musibah Menimpa Manusia

Syahdan, seorang hamba yang shaleh mengeluh kepada Allah. “Wahai Allah! Setiap hari aku selalu melakukan apa yang Engkau perintahkan dan menjauhi apa yang Engkau larang. Namun mengapa Engkau jauhkan dunia dariku dan tidak memberikan kelonggaran buatku untuk menggapainya? Malah ditengah-tengah kesulitanku menggapai dunia, justru Engkau timpakan pula musibah bertubi-tubi kepadaku. Sementara aku menyaksikan dengan penuh cemburu, bahwa hamba-hamba-Mu yang lain, yang begitu ingkar dan keras melawan-Mu bahkan asyik menikmati apa yang Engkau larang, justru Engkau mudahkan buat mereka jalan memperoleh kemegahan dunia. Malah musibahpun engkau jauhkan dari mereka. Mengapa Tuhanku?”

Jawab Allah, “Sungguh apa yang dikerjakan oleh semua hamba-hamba-Ku dan segala musibah yang Aku timpakan untuk mereka adalah kuasa-Ku, karena mereka semuanya bertasbih dan memuja-Ku. Seorang hamba yang beriman yang sebelumnya banyak berbuat dosa, Aku jauhkan dunia dari haribaannya, lalu Aku timpakan segala musibah kepadanya, sebagai tebusan terhadap dosa-dosanya yang lalu, agar kelak ketika dia bertemu dengan-Ku dalam keadaan Aku telah membalas semua kebaikannya.

Sedangkan mengenai hamba-Ku yang ingkar itu, ternyata sebelumnya dia telah melakukan kebaikan yang banyak. Maka Aku longgarkan kepadanya untuk memperoleh dunia, seraya Aku jauhkan dia dari segala musibah sampai dia bertemu dengan-Ku dalam keadaan Aku telah membalas semua kejahatannya”.

Hamba yang shaleh kembali bertanya, ”Bagaimana dengan hamba-Mu yang melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan, sementara dia selalu bertobat atas kejahatannya itu. Namun dia tidak mendapat apa-apa secara material didunia ini. Dan bagaimana pula hamba-Mu yang melakukan kejahatan lebih banyak dari kebaikan, sementara dia tidak pernah bertobat malah menambah-nambah kejahatannya. Namun dia selalu memperoleh kenikmatan material berlebih di dunia ini?”.

Jawab Allah, “Wahai hamba-Ku yang shaleh, Aku tahu maksud pertanyaanmu itu. Maka perhatikanlah baik-baik kisah dua orang bersahabat berikut ini. Pada suatu zaman sebelum kamu pergilah dua orang nelayan ke laut mencari ikan. Seorang mukmin yang seorang lagi kafir. Si kafir setiap kali dia melemparkan jaringnya ke laut, selalu menyebut nama Tuhannya padahal kehidupannya sehari-hari sangat jauh dari Tuhan. Namun dia mampu memperoleh ikan yang banyak. Sedangkan si mukmin, setiap kali dia melempar jaringnya ke laut dia juga selalu menyebut nama Tuhannya sejalan dengan kehidupannya sehari-hari yang sangat dekat dengan Tuhan. Namun dia tidak mendapatkan ikan seekorpun, kecuali ketika menjelang terbenam matahari di ufuk barat, barulah dia berhasil mendapatkan seekor ikan yang kecil. Itupun karena ikan yang baru didapatkannya itu bergerak-gerak dengan kuatnya, sehingga terjatuh kembali ke laut dan lari entah kemana. Maka kembalilah si mukmin ini kerumahnya dengan tangan hampa. Sementara si kafir berpesta-pora dengan membawa bakul yang penuh berisi ikan.

“Lalu apa hubungan keduanya dengan pertanyaan saya, wahai Allah”, Tanya hamba yang shaleh penasaran.

Jawab Allah, “Camkanlah baik-baik wahai hamba-Ku. Si mukmin itu di dunia ini memang tidak mendapatkan apa-apa secara material. Namun karena dia selalu melakukan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang, maka aku kayakan bathinnya seraya menyiapkan surga sebagai rumah abadi buatnya di akhirat. Sedangkan si kafir itu, di dunia ini dia memang memperoleh kenikmatan dunia yang banyak. Namun karena dia selalu meninggalkan apa yang Aku perintahkan dan mengerjakan apa yang Aku larang, maka Aku miskinkan bathinnya, seraya menyiapkan neraka sebagai rumah abadi buatnya di akhirat. Karena itu wahai hamba-Ku yang shaleh, janganlah engkau bersedih dan jangan pula berpaling dari ujian-Ku”.

Dari peristiwa ini tersirat pesan bahwa pada hakekatnya inti cerita ini mencoba mengajak manusia untuk menatap masa depan dengan ceria. Jangan tercampakkan oleh ujian atau musibah lantaran dibalik ujian ataupun musibah seburuk apapun, pasti ada hikmah yang acapkali tidak kita sadari namun bisa berbuah kenikmatan. Seseorang misalnya, dia akan dapat menikmati rasa sehat jika dia pernah jatuh sakit. Orang akan dapat memahami rasa kenyang jika dia pernah merasakan kelaparan. Orang baru merasa kehilangan dan kesepian jika orang yang selalu didekatnya telah pergi jauh. Demikian seterusnya.

Musibah memang selalu bermata dua. Disatu sisi ia menampakkan wajah sedih namun disisi lain ia boleh jadi merupakan karunia yang tersembunyi yang hanya bisa ditangkap dengan mata bathin. Begitu pula keberuntungan selalu juga memiliki dua sisi yang berkebalikan. Disatu sisi ia menampakkan wajah ceria, namun pada sisi yang sama ia boleh jadi merupakan bencana yang tersembunyai yang sulit kita terima dengan logika telanjang.

Maka Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 155-156 : “Sungguh kami akan menguji kalian dengan sesuatu ketakutan, kelaparan, kehilangan harta jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang jika ditimpa suatu musibah selalu berkata ‘kami berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah’ “.

Ayat ini mencoba memberikan dasar-dasar yang sehat kepada umat Islam agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup dan mau menerima kenyataan-kenyataan yang dihadapinya. Jangan takut berbuat salah kalau yakin sedang melakukan sesuatu yang benar. Dan jangan pula takut gagal jika tengah berikhtiar memperbaiki nasib. Karena Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Tidak ada kesalahan ataupun kealpaan yang tidak akan diampuni kecuali dosa menyekutukan Allah. Itulah sebabnya Nabi SAW bersabda : “Orang yang minta ampun akan dosa-dosanya bagaikan orang yang tidak pernah berbuat dosa”.

Nabi SAW sendiri pernah ditegur keras oleh Allah SWT gara-gara beliau menolak pertobatan seorang anak muda yang telah melakukan dosa besar. Ketika itu Nabi SAW didatangi Umar Bin Khattab yang membawa seorang pemuda dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Lalu Nabi SAW bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Sambil menghapus air matanya pemuda tersebut menjawab, “Saya telah melakukan dosa besar ya Rasulullah”.

“Dosa apa itu?” tanya Rasulullah penasaran. “Saya malu mengatakannya ya Rasulullah. Karena boleh jadi Allah tidak sudi mengampuni dosaku”. Jawab pemuda itu. “Jangan malu katakan saja. Insya Allah Dia akan mengampuni dosamu”. Atas desakan Nabi ini pemuda itupun mengisahkan perbuatnnya.

“Sejak usia tujuh tahun pekerjaan saya adalah membongkar kuburan orang, sambil mengambil kain kafannya dan menjualnya ke pasar. Dulu saya hanya membantu ayah, tetapi sekarang sudah membuka usaha sendiri”. Mendengar hal itu Nabi geleng-geleng kepala. “Namun itu belum seberapa ya Rasulullah” ucapnya lagi. “Yang jauh lebih keji dan memalukan adalah, aku membongkar kuburan seorang gadis cantik kaum Anshor. Saya buka kain kafannya, lalu saya melihat gadis itu tak tertutupi sehelai benangpun, darah mudaku mendidih. Lalu aku terdorong nafsu untukmenggagahi mayat itu ya Rasullah”.

Mendengar penuturan pemuda tersebut, Nabi SAW tiba-tiba berdiri dan marah, dengan wajah merah padam beliau menghardik, “ Hari durhaka! Enyahlah kau dari hadapanku. Tiada balasan yang setimpal dari perbuatanmu kecuali neraka jahanam”.

Mendengar kutukan Nabi tersebut, anak muda tadi lemas sekujur badannya. Dia merangkak meninggalkan junjungan umat Islam itu. Mengembaralah dia ke Padang Pasir dan bersujud siang dan malam seraya menangis kepada Allah. “Ya Allah, aku hambamu yang telah melakukan dosa besar. Telah kudatangi rumah utusan-Mu, kumohon agar dia bersedia memberikan syafa’atnya kepadaku. Tetapi manakala dia mendengar betapa kejinya perbuatanku, diusirnya aku dari sisinya. Sekarang kuketuk pintu-Mu ya Allah. Engkaulah harapanku yang terakhir. Aku bermohon agar Engkau sudi menerima pertobatanku dan mengampuni semua dosa-dosaku. Jika Engkaupun tak sudi maka antarkanlah api neraka dari hadirat-Mu dan bakarlah aku sekarang juga sebelum Kau bakar aku nanti di neraka jahanam buat selama-lamanya”.

Agaknya do’a anak muda ini dikabulkan Allah. Allah memerintahkan Jibril As datang menemui Rasulullah SAW. Kata Jibril, “Ya Rasulullah, Allah mengirimkan salam kepadamu dan berfirman “Tidakkah engkau Ku-utus melainkan untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Tetapi mengapa ketika hamba-Ku datang untuk bertobat, kau usir dia dari hadapanmu. Terimalah dia wahai Muhammad. Sebab yang berhak menerima atau menolak pertobatan seorang hamba Allah, adalah Allah itu sendiri”.

Peringatan ini membuat Nabi SAW menggigil ketakutan dan menyesal. Beliau lantas menyuruh para sahabat mencari anak muda yang malang tersebut dan membawanya kehadapan beliau. Sejak itu konon Nabi SAW langsung memaafkan kesalahannya dan memohonkan ampun kepada Allah atas dosa anak muda itu seraya memberikan syafa’at untuknya. Sehingga ketika meninggal dunia dosa anak muda itu telah diampuni Allah SWT. Hal inilah yang menggugah Nabi SAW untuk mengatakan : “Tiada suara yang lebih dicintai Allah kecuali suara seorang hamba yang berdosa, takkala dia meminta ampun atas segala dosa-dosa yang telah dilakukannya. Maka pada waktu itu Allah akan berfirman, Kuterima kedatanganmu, katakanlah permintaanmu”.

Belajar dari tuntunan Nabi SAW ini, ada baiknya para pemimpin agama kita pun melakukan hal yang sama. Dituntut untuk bersikap bijak dan santun kepada setiap umat yang melakukan kesalahan, seberat apapun kesalahan tersebut. Kita dianjurkan untuk tidak memandang sinis dan penuh kebencian kepada seorang pendosa. Kita diharapkan selalu memandang dengan penuh kasih jika pendosa tersebut mau berterus terang, apalagi mereka mau kembali kejalan yang benar. Mengapa kita tidak bersedia menyambut tangan mereka yang kotor, padahal sekotor apapun tangan yang menggapai dunia, dalam pandangan Allah bisa jadi dia mendapatkan pembersihan jika dia bersungguh-sungguh menadahkan tangannya untuk menggapai pengampunan Allah SWT.

Agama hendaknya kita kembalikan fungsinya sebagai tempat berteduh bagi hamba Allah yang ingin memanusiakan dirinya, bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain, apalagi mengutuk dan mengkafirkan mereka secara sewenang-wenang. Nabi SAW sendiripun diperingatkan Allah bahwa kewajibannya adalah memberi peringatan bukan sebagai pemaksa kehendak umat manusia. Sebab, jika kita berlaku kasar dan keras niscaya umat akan menjauh dan meninggalkan kita. Wallahu a’lam.

Disarikan dan ditulis kembali dari berbagai sumber terpilih

Baca Selengkapnya...

Template by: Abdul Munir
Website: 99computercity